
Foto Sex Jablay: Cerita Sex Memendam Rasa Keinginan - Hai, selamat siang bertemu lagi bersama web Ceritadewasa terpanas di kesempatan ini admin akan mengulas hal mengenai Seputar Cerita Dewasa Foto Sex Jablay: Cerita Sex Memendam Rasa Keinginan lihat selengkapnya
Foto Sex Jablay Menyediakan konten khusus sejarah masa berupa : sex tante hot, sejarah abg mesum, sex memek perawan, sex sekandung nyata, ngentot janda horny disertai cetakan bugil – Memendam Rasa Keinginan. Aku bertemu dengan sahabatku Naralita sekarng beliau pernah berkeluarga dan menetap di Palembang, suatu musim aku bertemu dengannya juga saat di maen ke Yogya dengan anaknya yang masih keci dan suaminya, wajah dan bentuk Naralita masih bagaikan dahulu pertma aku kenal beliau , kulitnya putih, bibirmya tipis merah merona rambutnya yang panjang, dan tubuh yang terawat.
Cerita Dewasa Memendam Rasa Keinginan
| Cerita Mesum Memendam Rasa Keinginan |
Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tarikh lalu ketika beliau masih pendidikan di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, beliau tinggal di bangunan bude, kakak ibunya yang lagi kakak ibuku. Rumahku dan bangunan bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Naralita.
Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia tentu gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun selepas aku menikah, isteriku melahirkan anak cucu kami yang pertama. Hubungan kami dasar dan saling mencintai.
Kami tinggal di bangunan sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan layak dirawat di bangunan ambruk lebih lama ketimbang anak cucu kami. Sungguh kelam-kabut layak merawat bocah di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Naralita) beserta Naralita dengan acap bersedia bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat cukup isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak cucu kami.
Hari-hari berikutnya, Naralita masih ada kalanya datang berpaling anak cucu kami yang konon cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bocah kami banyak ketat dengan Naralita. Kalau alang rewel, menangis, gelinjang andaikata digendong Naralita menjadi diam dan tertidur di pangkuan atau gendongan Naralita.
Sepulang kuliah, andaikata ada waktu, Naralita selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Naralita ada kalanya tinggal di bangunan kami. Isteriku banyak bahagia tempat bantuan Naralita. Tampaknya Naralita tulus dan ikhlas membantu kami.
Apalagi aku layak kerja sepenuh musim dan ada kalanya pulang malam. Bertambah besar, bocah kami berkurang nakalnya. Naralita berangkat tidak berlimpah mampirke rumah. Isteriku lagi semakin sehat dan bisa mengurus sarwa keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Naralita tiba-tiba muncul.
“Ada apa Na, malam-malam begini.”
“Mas Danu, tinggal seorang diri di kantor?”
“Ya, Dari mana kamu?”
“Sengaja kemari.”
Naralita mendekat ke arahku. Berdiri di sisi kursi kerja. Naralita terlihat memakai rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau minyak wangi antik remaja.
“Ada apa, Naralita?”
“Mas.. aku pengin bagaikan Mbak Tari.”
“Pengin? Pengin apanya?” Naralita tidak menjawab tetapi bahkan berjalan kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap beliau pernah duduk di pangkuanku.
“Naralita, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Naralita pernah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini cuma dapat kupandangi dan bayangkan, saat ini benar-benar mendarat keras.
Kulumanya badar animo dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan banter dan menari lincah di rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, bergerak terang ada rasa enak selepas berbulan-bulan tidak berangkaian intim dengan isteriku.
Naralita menjauhkan pagutannya dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku acap berangkaian dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa musim saja rasanya diri berbahaya dingin. Aku belum sempat menemukan laki yang pas.”
Kuangkat tubuh Naralita dan kududukkan di tempat jeluang yang masih berserakan di tempat meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan berjalan ke hadap pintu bilik kerjaku. Aku memugas dan menangkup kelambu ruangan.
“Na.. Kuakui, aku pula kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”
“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Naralita sekali lalu anjlok dari meja dan menyongsong langkahku.
Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya berapit di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut.
Naralita merapatkan pula perutnya ke hadap kemaluanku yang masih terbungkus lancingan tebal. Naralita balik menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan berjangkit ke sarwa tubuh. Aku mulanya ragu menyambut keliaran Naralita. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba berjangkit ke sarwa tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.
“Kamu benar bergairah, Naralita..” bisikku lirih di telinganya.
“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sambil mendesah.
“Aku faktual menginginkan Mas sejak lama.. ukh..” serunya sambil menelan ludahnya.
“Ayo, Mas.. teruskan..”
“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”
“Semuanya,” kata Naralita sambil tangannya mengembara dan mengusap baur kemaluanku. Bibirnya bergerak menyapu latar kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya.
Kutarik perlahan ke hadap tempat dan beserta merta tangan Naralita telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke tempat meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga diri Naralita ketat ke dadaku.
Kedua bukitnya berapit kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu alhasil jatuh ke geladak dan saat ini ujung payudaranya berapit ketat ke arahku.
Aku melorot perlahan ke hadap dadanya dan kujilati badar gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Naralita, namun menambah enak aroma gadis muda.
Tangan Naralita membelai-belai rambutku dan menggiring kepalaku biar mulutku bangat menyedot putingnya.
“Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Naralita tidak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan diri ke geladak berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat.
“Mas lepas..” konon sekali lalu telentang di lantai. Naralita meminta aku melepas pakaian. Naralita seorang diri pula melepas rok dan lancingan dalamnya. Aku pula melakukan demikian namun masih kusisakan lancingan dalam. Naralita memandang dengan pandangan mata sayu bagaikan tidak sabar menunggu.
Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari hadap sisi sambil kugosokkan telapak tanganku ke hadap putingnya. Naralita mengah sedikit kemudian sedikit menyengatkan tubuhnya ke arahku. Sengaja beliau bangat mengarahkan putingnya ke mulutku.
“Mas isap Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak..” Kupenuhi permintaannya sambil kupijat-pijat pantatnya. Tanganku berangkat badung mencari selangkangan Naralita. Rambutnya tidak terlalu nyata namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Naralita tampak sedikit tersentak.
“Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus,” lenguhnya tidak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya.
Terasa jemari kiri tengahku telah mencapai gumpalan alit kutil di benteng tempat depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lemas berirama. Lidahku memainkan puting sambil kadang menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Naralita dengan teknik petik melodi.
Naralita menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh badar nikmat. “Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. bergerak ukhh..” Sebentar kemudian Naralita lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Naralita balik bernafsu dan berbalik mengambil inisitif.
Tangannya mencari-cari hadap kejantananku. Kudekatkan biar gampang dijangkau, dengan beserta merta Naralita atraktif lancingan dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke hadap wajah Naralita.
“Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Naralita kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Naralita langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengusap penisku.
“Mas.. ini asli?”
“Asli, 100 persen,” jawabku.
Naralita geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar banter ke hadap latar penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian sisi kiri terlihat menonjol aliran otot keras.
Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit indra peraba yang menggelambir. Otot dan gelambiran indra peraba itulah yang membuat perempuan bertambah enak merasakan tusukan senjata andalanku.
“Mas, belum sempat aku memandang burung sebesar dan sepanjang ini.”
“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”
“Alangkah bahagianya MBak Tari.”
“Makanya kamu pengin bagaikan dia, kan?”
Naralita langsung atraktif penisku. “Mas, aku ingin banter menikmatinya. Masukkan, banter masukkan.”
Naralita menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah jadi meluncur. Naralita memandangiku badar harap.
“Cepat Mas, cepat..”
“Sabar Naralita. Kamu layak benar-benar terangsang, Sayang..”
Namun tampaknya Naralita tidak sabar. Belum sempat kulihat perempuan sekasar Naralita. Dia tidak ingin dicumbui dahulu sebelum dirasuki burung pasangannya. “Cepat Mas..” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di latar lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh benar alot masuk, kuangkat balik namun Naralita malah mendorongkan pantatku dengan kedua bekah tangannya. Pantatnya seorang diri didorong ke hadap atas.
Tak terhindarkan, baur penisku bagai membentur benteng tebal. Namun Naralita tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa banyak sesak, seret, panas, memilin mulas dan sulit. Naralita tidak gentar, bahkan menyongsongnya badar gairah.
“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.
“Terus. Paksa, azab aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. bangkar jangan takut Mas, terus..” Dan aku tidak bisa menghindar. Kulesakkan bangkar hingga separuh penisku telah masuk. Naralita menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat.
Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari di vagina Naralita, berderai keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Naralita diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap.
Tidak turun, tidak lagi naik. Untuk meluak ketegangannya, kucari ujung puting Naralita dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Naralita sedikit berkurang ketegangannya.
Beberapa saat kemudian beliau memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang cuma separuh jalan, anjlok naik dan Naralita berangkat tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Naralita berserah dan tidak sebuas tadi.
Ia menikmati irama keluar bersarang di liang kemaluannya yang berangkat basah dan mengalirkan enceran pelicin. Naralita berangkat bangkit gairahnya menggelinjang dan mengah dan pada alhasil menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya bukan main enaknya..” Naralita melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di sisi Naralita yang terkulai.
“Naralita, mengapa kamu?”
“Lemas, Mas. Kamu benar perkasa.”
“Kamu lagi liar.”
Naralita tentu ada kalanya berangkaian dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil melukai keperawanannya karena selaput daranya benar tebal. Namun perkiraanku, para adam akan takluk oleh garangnya Naralita mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila tentu anak cucu itu, banter panas.
Sejak kejadian itu, Naralita selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Naralita waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Naralita berterus terang puas.
Setelah lulus, Naralita menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di bangunan bude.
“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.
Aku cuma mengangguk.
“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.
“Ya, tambah gede dong.”
Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pula balik terjadi di posisi sama-sama telah matang.
“Mas Danu, Mbak Tari pernah bisa dipakai belum?” tanyanya.
“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.
Dan, Naralita pula malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil
Sampai di sini detil tentang Foto Sex Jablay: Cerita Sex Memendam Rasa Keinginan, semoga info ini dapat bermanfaat pembaca salam
tulisan ini diposting pada tag , tanggal 11-09-2019


Komentar
Posting Komentar