
Cerita Sex Selingkuh Ngentpt Bu Patty Majikanku Yang Mempunyai Tubuh Mulus - Hallo, selamat pagi berjumpa lagi dengan web Cerita Dewasa teramai di kesempatan ini saya akan membawakan hal tentang Seputar Cerita Hots Cerita Sex Selingkuh Ngentpt Bu Patty Majikanku Yang Mempunyai Tubuh Mulus baca selengkapnya
Cerita Sex Selingkuh Ngentpt Bu Patty Majikanku Yang Mempunyai Tubuh Mulus - Om Akhsan, mamak Bram, pernah 1 bulan ini sakit-sakitan. Bram merasa bersalah. Dua tarikh dia menumpang di rumah pamannya ini, untuk kuliah di sebuah bimbingan didikan komputer. Istri Om Akhsan, Bibi Ena, mengaku seluruh beban keluarga, dengan Bram dengan 3 orang anak mereka yang lagi kecil. Sebelum sakit-sakitan, Paman beraksi sebagai supir di keluarga Wijaya. Cukup lama, sekitar 5 tahunan. Bi Ena yang beraksi sebagai buruh cuci pun beraksi bonus keras untuk sekedar bisa makan. Aku? aku mengandalkan kiriman orang tuaku, lebih tepatnya ibuku atas aku anak yatim, yang tidak seberapa dari kampung, lagi untuk sekedar sumbangan belah Paman dengan Bibi.
Cerita Ngentot - Om, boleh ga aku pertanyaan sesuatu? Bram berkata satu musim kepada pamannya yang terbaring lesu di ranjang sempit.
Penyakitnya didiagnosis sebagai pneumonia, dengan dia kudu istirahat habis-habis-an di rumah, jika tidak, paru-parunya bakal terisi banyak cairan, dengan dia bakal lebih lembut tulang lagi. Untungnya keluarga WIjaya baik hati, mereka mengaku seluruh biaya rumah sakit Om. Sayangnya itu berarti Om Akhsan kudu beradu habis-habis-an dari pekerjaannya. Jika tidak, hanya masalah waktu setelah pneumoninya kambuh lagi.
Apa Bram?
“Yang gantiin paklik di rumah bungkus Wijaya siapa?”
“Ya, kemarin si Cipto bersedia gantiin, tapi ternyata ga betah. Katanya kebanyakan nganterin, mending bawa kontener katanya” kata Om Akhsan lesu.
“Kalo aku aja gimana Om?”
“Maksud lo?”
Boleh ga, aku gantiin mamak oke sopir di rumah Wijaya? pertanyaan Bram.
“Heh? pakcik awak bisa nyetir? ini Mercy lho, sedan, bukan bis.”
“Emangnya Sumber Kencono, om?”
Mereka tertawa bersama.
“Bisalah om, ni liat,” Bram mempersaksikan SIM Anya.
Bram, Aku tidak bisa mengijinkan hal itu, kata Paman dengan beban hati.
“karena Om udah janji sama almarhum Bapak kan? Aku ga bisa liat Bi Ena terus-terusan kaya gitu Om, dengan lagi pula kuliahku di BSI pernah hampir selesai,” kata Bram lagi.
Pamannya mengingat perjanjiannya dengan ayah Bram, ketika mereka lagi kuliah. Dia berjanji bahwa ketika ada benda terjadi ala ayah Bram, dia bakal bertanggung jawab sepenuhnya akan bernapas Bram, dengan itu berarti bahwa dia tidak bakal agak-agak memaksa Bram untuk bekerja, mendukung rumah tangganya.
Paman, aku kudu bekerja! Aku betul-betul tidak tega membesuk Bi Ena mengaku semuanya sendiri.
Sekilas mereka empat mata membesuk ke hadap Bi Ena yang cukup sibuk menyuapi anak terkecil mereka. Istri Om Akhsan memandang mereka, dengan bagaimanapun kuat seorang lelaki, ajaran itu melarutkan lever Om Akhsan.
OK, Bram, aku bakal menelepon bungkus Wijaya untuk mengabarkan penggantiku.
Rumah keluarga Wijaya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, sungguh glamor dengan sangat luas. Bram hanya bisa terkagum-kagum membesuk isi rumah bagaikan kastel itu. Rumahnya punya lobi, bagaikan hotel, dengan sebuah mobil glamor Mercedes ada di situ.
Bram bersarang selepas dibukakan pintu oleh bi Minah. Kikuk dengan suasana yang sama sekali berbeda dengan rumah Om Akhsan, Bram bersandar tepekur, selama Pak Philip bersandar di depannya sekali lalu menerima telepon dari seorang rekan bisnisnya. Sebelum itu, Pak Philip berkata bahwa dia pernah tahu melanda bakal datangnya pelanjut Pak Akhsan.
OK, Bram, awak mulai beraksi besok pagi. Tugasmu adalah mengantar ketiga anakku dengan istriku kemanapun mereka pergi. Kamu boleh menginap di sini, atau awak boleh pulang pergi. Tapi, awak kudu standby di rumah ini mulai jam 6 pagi, membersihkan mobil, dengan setelahnya, awak kudu siap kapanpun anak-anakku atau istriku memanggilmu. Itu jika awak memilih untuk pulang pergi.
Baik, pak. Om menyarankan abdi untuk menginap di aku saja pak. Ini lagi abdi pernah bawa blus gantinya, jawab Bram.
Minah bakal mengantarmu ke kamar sopir. Minah! menamai bungkus Philip kepada satu-satunya ajudan di rumah besar itu.
Seorang wanita anak muda dengan aksesori sederhana kemudian muncul sembari tersenyum manis kepada Bram. Mari mas Bram, abdi bantuin angkat barangnya, kata Minah.
Hari-hari berlangsung banter di minggu itu. Bram dengan banter menyesuaikan diri di rumah keluarga Wijaya, selepas lebih dahulu bergaul dengan ketiga anak keluarga Wijaya, yang secara mengejutkan mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan, tidak bagaikan bayangan Bram awal tentang bawah umur orang kaya yang agak-agak sombong, pilih-pilih teman. Yang tertua, Sisca, betul-betul pribadi yang mengagumkan. Cantik, pintar, aib hati, dengan humoris. Steven, nomer dua, betul-betul konyol dengan seorang penggila sepakbola. Tifanny, si bungsu, betul-betul anak yang manis, penurut, dengan lebih berkenan bermain di di dunianya sendiri. Bram belum suah bertemu dengan bini bungkus Philip, atas Ibu Patty, panggilan bini bungkus Philip, cukup berada di Singapura untuk urusan bisnis.
Bram melaksanakan aktivitasnya setiap hari, mengantar ketiga anak itu kemanapun mereka akan pergi, dengan kudu diakui, pekerjaan itu betul-betul melelahkan. Sisca, seorang siswi SMA Internasional terkenal di Jakarta Selatan, membelokkan acap angkat kaki membawa mobil, tentu saja dengan Bram sebagai sopirnya.
Mas Bram, nanti tolong anterin Sisca ke hostel P*****n dong, ada pesta Prom Night nih, rayu Sisca satu sore ketika Bram cukup bersandar santai di teras belakang, ngobrol dengan Minah.
Sore itu matahari sungguh indah, memancar menjelang tenggelam. Sinarnya berwarna kecemerlangan menyinari sosok Sisca yang sempurna. Kuning langsat, dengan badan yang menawan. Dia memakai tanktop warna biru anak muda dengan benang kecil, dengan seluar putih super pendek, bagaikan kebiasaannya. Tali BHnya hadir di bahunya. Warnanya biru.
Gitu aja mengapa kudu nanya sih non. OK deh non, akan jam berapa berangkatnya? pertanyaan Bram, tampak terlampau semangat.
Jam 7 kita angkat kaki baiklah mas. aku dah pamit ama papa kok.
Cerita Seks Dewasa - Dia kemudian bersandar cangkung sekali lalu bermain cairan di alahan ikan di dekat area bersandar Bram dengan Minah. Bram terpana. Itu bukan pemandangan yang dilihat Bram setiap hari, apalagi seangkatan bernapas Bram. Oh Tuhan, pikir Bram dengan jantung yang berdegup kencang. Tanpa disadari Sisca, posisinya membuat bagian dadanya terlihat. dengan itu bukan bagian depan yang biasa. Belahan itu dalam, membentuk jalur yang panjang dari pangkal depan ke hadap blus tanktop. Begitu indah, dengan kulit asfar langsat sonder cela. Belahan depan itu berguncang-guncang mengikuti gerakan tangan Sisca yang bermain cairan kolam. Bahkan sekilas Bram membesuk renda BH Sisca.
Pemandangan itu sayangnya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Minah beralih dari area duduknya dengan menganjur Sisca bersarang ke di rumah. Tidak baik anak cewek di asing pas Maghrib, katanya.
mas Bram, Pak Akhsan gimana kabarnya sekarang? pertanyaan Sisca membongkar percakapan. Malam itu Bram mengantar Sisca ke Prom Night di sebuah hostel berbintang di Jakarta Pusat.
Sisca memakai blus malam yang sangat mewah, dengan model kemben terusan, dengan rok kecil di atas dengkul. Model yang layak pendek, sehingga setiap orang absolut bisa membesuk jamal ceker tangga Sisca yang bagus berkilat itu. Bram berusaha tidak membesuk bahan itu, mengingat Sisca adalah anak majikannya.
Lobby Hotel yang gemerlap itu penuh sesak dengan bawah umur ABG tajir yang merayakan Prom Night ketika mereka berbatas di sana. Mobil yang disupiri Bram beradu tepat di ambang lobby, selepas ngantri beberapa saat atas semua anak ABG itu diantarkan oleh sopir atau orangtuanya. Bram bersicepat keluar, dengan menegasikan pintu untuk Sisca, sebuah kebiasaan anyar yang dipelajarinya dari Om Akhsan.
Bram sungguh menyukai kebiasaan anyar itu, atas ketika dia menegasikan pintu Sisca, dia membesuk lagi pemandangan bagus yang dilihatnya sore itu. Ketika Sisca cabut dari mobil, ceker kirinya melangkah pelan cabut dari mobil. kakinya yang tangga hadir bayan ditimpali lampu lobby hostel yang benar benderang. Pahanya sekilas terlihat, betul-betul sonder cacat cela. Belum juga pemandangan selanjutnya, betul-betul memukau. Ketika Sisca kecil menghormat untuk cabut dari mobil, dadanya yang hanya ditutupi blus malam model kemben membentuk lekukan di berbentuk V terbalik. Renda BHnya curi dari bagian depan itu. sepertinya BH tersebut tidak kuasa menahan volume bukit bagus Sisca.
Bram coli malam itu, mula-mula kali di asal usul hidupnya …
Mami, kenalin, ini mas Bram, sopir kita yang baru, kata Tiffany menyeret ibunya.
Saya Bram bu, pelanjut bungkus Akhsan, kata Bram sekali lalu menjabat tangan Bu Patty.
“Hallo,” sapanya singkat.
Oh, oke ini bini bungkus Philip, Ibu Patty. Bram pernah suah membesuk foto sebelumnya.
Bu Patty adalah seorang wanita yang mencerminkan anggapan Bram selama ini melanda wanita kaya. Glamor, dengan pakaian yang hadir mewah, perhiasan yang kentara, dengan make up yang asing biasa. Umurnya sepertinya akhir 40an. Yang membuat kagum Bram, dengan umurnya, Bu Patty sungguh luarbiasa menawan. Jantung Bram berdegup jencang ketika yad dia menyentuh yad bu Patty. Kulitnya sungguh halus, dengan tubuhnya yang sejenis itu harum, membuat Bram terpaku. Seumur hidupnya, belum suah dia membesuk sosok wanita bagaikan itu. Maklum, orang kampung. Dia memakai blus kerja hem cermat warna pink. Roknya cepak sampai lutut, memamerkan ceker tangga dengan sepatu hak tinggi.
Seperti sejarah Tiffany, bu Patty anyar saja pulang dari Singapura. Bu Patty segera melampaui Bram dengan Tiffany, menemui teman-temannya di ruang tamu. Bram curi dari dapur, belek begandring di ruang tamu. Teman-teman bu Patty tidak jauh beda dari bu Patty. Elegant, glamor, setengah baya, namun super seksi.
Bram tidak tahu mengapa. Sejak saat itu dia terobsesi dengan wanita setengah baya.
Bram coli malam itu, sungguh nikmat …
membayangkan bu Patty dengan segala kelembutannya, keharumannya, membayangkan wanita itu mengeluarkan burung Bram dari celana, mengelusnya dengan tangannya yang lembut …
Sejak bu Patty datang, kegiatan Bram didominasi dengan daftar membawakan bu Patty kemanapun dia pergi. Ya, dengan Bram membaca partner supir baru, mas Yanto yang bertugas mengantar anak-anak.
Pak Philip akan orang yang bisa dipercaya untuk mengantar bu Patty, bukan orang baru. Bukannya apa-apa, bu Patty acap membawa barang-barang berarti atas pergaulannya. Arisan berlianlah, arisan wisatalah.
Setiap musim ada saja daftar bu Patty, dari mulai bertemu dengan kolega berbatas makan malam di restoran atau hostel mewah. Dan sungguh, membawakan bu Patty betul-betul membuat Bram kecanduan. Bu Patty mempunyai kebiasaan memakai gaun-gaun glamor yang seksi, yang dipastikan berkelaluan memamerkan lekuk tubuhnya, dengan pinggang yang indah, ceker jenjang, dengan depan yang membusung indah. Dada bu Patty bisa dibilang istimewa, besar, tampak padat, dengan Bram tidak suah melewatkan kesempatan untuk mengamatinya, baik ketika di mobil atau di rumah.
Pernah Suatu kali ketika Bram mengantar bu Patty ke sebuah pesta, bu Patty memakai busana malam warna aswad dengan dengan bagian yang sangat rendah, mempersaksikan hampir seluruh bulatan dadanya. Bram bersumpah, dia membesuk sekilas puting buah dada bu Patty ala saat dia cabut dari mobil. Warnanya abang kecoklatan, dengan lingkaran sekitar puting yang berwarna sama. Bram merasakan penisnya berkhianat seketika sejenis itu membesuk pemandangan yang mendebarkan itu. Penis itu tidak mengecil berbatas malamnya mereka lagi ke rumah Wijaya.
Rumah Wijaya lagi sepi rendah daif} sore itu. Hari yang dingin, dengan hujan yang sangat deras. Pak Philip dengan ketiga anaknya angkat kaki ke Hongkong untuk berwisata, melampaui Bram, Minah, dengan bu Patty.
Bram bersandar di kamarnya seorang diri, menonton TV. Tangannya berperan mengelus penisnya yang bengkak sedari tadi. Minah pernah terlelap tidur kelelahan selepas seharian mendukung packing bawah umur Wijaya. Sejak membesuk pemandangan terakhir itu, Bram jadi berkelaluan terangsang setiap hari, dengan berkelaluan akhirnya, coli lah yang jadi pelarian.
Petir menggelegar. Bram cabut dari kamarnya dengan menuju ruang cucian. Dia perlu pelampiasan selepas terangsang terus-menerus. Entah setan barang apa saja yang membujuk dirinya, ada sebuah dorongan yang mendorong dia angkat kaki ke area cucian. Dorongan kuat yang membuat dirinya seorang diri heran. Dia mulai membikin-bikin benda di tumpukan pakaian. Sesuatu yang bisa dia membubuhkan untuk melampiaskan nafsu birahinya.
Tidak lama, diapun menemukannya. Tumpukan BH dengan seluar dalam, yang dia tahu absolut bukan eigendom Minah atau Tiffany, atas bentuknya. Bram memikat salah satu BH. BH itu berwarna abang dengan benih sutra, dengan renda-renda di belahan cupnya. Tali bahu dengan benteng belakangnya kecil, sebanding 1 cm. Bram cucup BH itu. Bau harum Sisca yang khas langsung merebak. Tangan kiri Bram meraba penisnya yang sangat tegang, meskipun yad kanannya ada BH itu di ambang hidungnya. Bram menciumnya. Sedapp sekali.
Bram betul-betul terangsang. Dia kemudian membongkar seluar pendeknya, mengeluarkan penisnya dengan mulai meremas-meremasnya. Ooh, sejenis itu nikmatnya. Kemudian dia membikin-bikin lagi. Sebuah seluar di seksi, dengan bagian pinggang yang tinggi jadi pilihannya. Pasti itu eigendom Bu Patty. Celana itu merah, tipis dengan benih sutra yang sangat halus. Rendanya betul-betul membuat Bram terangsang. Renda itu berada di belahan depan, dengan di belahan elastisnya. Renda di belahan ambang mempunyai belahan yang kecil tembus memandang -- bulu pilih bulu yang apabila dipakai, hampir absolut memamerkan bulu-bulu lembut vagina wanita. Tangan Bram segera membawa seluar di itu ke ambang hidungnya. Bram cucup aroma pesing yang mengherankannya, tidak membuat dia mual, tapi oke semakin terangsang.
Bram mulai mengeluskan seluar di itu ke penisnya yang sangat tegang. Sensasi halus benih seluar di itu membuatnya tidak bertahan lama. Sebentar saja, cairan putih lengket menempel di seluar di itu. Sperma Bram. Lega rasanya.
Dari pengalaman itu, Bram mengetahui bahwa bu Patty menggunakan BH ukuran 36C, dengan Sisca 34B.
Keesokan harinya Minah membersihkan pakaian-pakaian di ruang cuci. Bram beruntung. Minah tidak menemukan seluar di yang ditempeli sperma Bram.
Patty bukannya tidak buta. Sopir anyar itu, Bram, lagi muda. Tinggi, atletis, sepertinya Bram benar bukan anak desa kebanyakan. Dari matanya hadir dia orang yang cerdas. Bram sangat tanggap atas perintah Patty.
Patty sungguh terkesan dengan segala tingkah lakunya. Pak Akhsan benar betul-betul mendidiknya untuk jadi sopir yang baik. Bagi Patty, mempunyai sopir yang gentleman jadi sebuah kebanggaan yang dapat dia tunjukkan ke teman-temannya.
Tiba-tiba Patty oke acap memperhatikan Bram. Bukan sonder sengaja. Patty membesuk bahwa Bram pun acap sembunyi-sembunyi memandang -- bulu pilih bulu dia. Kadang jika Patty membesuk Bram dengan sengaja, Bram tampaknya langsung malu dengan membalikkan muka. Dan entah kenapa Patty merasakan benda yang lain. Ada satu perasaan yang dia pernah durasi tidak rasakan. Perasaan diinginkan. Oleh seorang laki muda. Patty merasakan tubuhnya menggigil. Sendirian. di ranjang super King di kamar utamanya. Bukan atas kedinginan, tapi atas nafsu. Tak tertahankan. Tangannya menyelip saja di di hotpants. Mencari pelepasan.
Hujan deras, dengan cemeti dewa menggelegar.
Patty cabut dari kamar. Sore itu sungguh dingin, atas hujan yang sejenis itu deras. Dia perlu menghangatkan dirinya dengan secangkir coklat. Panas dengan manis. I really need that, pikirnya.
Patty tidak terlampau peduli dengan blus yang dikenakannya. Toh, lagipula tidak ada orang di rumah sebesar itu. Minah dengan Bram ada di belakang, dengan tidak agak-agak mereka berani bersarang rumah utama, ala saat Patty hanya sendirian di rumah. Sebuah tank top warna pink, layak ketat, dengan bawahan hotpants. Patty merasa diri sangat seksi. Kostum wajibnya di rumah, yang dulu berkelaluan disukai Philip. Ya, dulu. Kini tidak lagi. Philip terlampau sibuk dengan daftar akuisisi, merger, ekspansi di sektor properti, valuta asing.
Patty beralih ke dapur. Dia menjerang cairan di sebuah teko kecil, sekali lalu memikat coklat di kitchen set, dekat dengan ruang cucian. Dan dia terkejut membesuk pemandangan di area cucian. Dari muka dapur, ruang basuhan hadir jelas, tapi orang yang di ruang basuhan absolut tidak bisa membesuk sembarang orang yang ada di dapur. Dan Patty membesuk sesosok badan laki-laki. Apa yang cukup dia lakukan di ruang basuhan ala saat hujan deras? Yang absolut bukan untuk membersihkan pakaian. Sejenak Patty curiga.
Ya, itu absolut Bram.
Patty mengintip, dengan merasakan kakinya melemah, ketika membesuk barang apa yang cukup dilakukan Bram.
Bram cukup ada seluar dalamnya. Tidak hanya itu saja, seluar di Patty diusap-usapkan, sepertinya ke burung Bram. Patty tidak bisa membesuk dengan jelas, atas dia hanya bisa membesuk badan Bram dari belakang. Dan badan itu sungguh badan ideal. Patty membesuk bahwa Bram mempunyai pantat yang sungguh berotot. Celana Bram turun berbatas ke lutut kaki. Ya, Bram cukup bermasturbasi dengan seluar dalamnya.
Ooh, rasa itu muncul lagi. Patty merasakan putingnya mulai mengeras. Tidak tahan membesuk pemandangan itu, Patty secara tidak sadar mulai meremas-remas dadanya. Pertama kali di hidupnya, dia merasa sangat terangsang sonder ada seseorangpun di dekatnya. Tangan kanannya menyusuri belahan di pahanya, kemudian bersarang pelan-pelan ke di bolongan ceker seluar hotpantsnya. Tangan yang mendadak lihai itu mencari benda yang basah di bawah sana, dengan mulai bersarang ke dalamnya. Oooh, feels great, really great, pikir Patty ketika tangannya mulai beraksi, merangsang tonjolan alit di vaginanya. Patty semakin banter merangsang dirinya, selama di area cucian, Bram lagi sepertinya semakin mendekati kulminasi kenikmatan, hadir dari tangannya yang semakin cepat. Jantung berdegup semakin cepat, mata Patty nanar, dengan meledaklah orgasmenya. Satu kali selepas sekian lama. Sepertinya Bram pun hendak mencapai ejakulasinya, tatkala dari jauh, hadir tubuhnya bergetar hebat.
Patty berusaha mengendalikan tubuhnya selepas orgasme yang hebat. Dia mengendap di ambang kitchen set, dengan mengikuti Bram beralih angkat kaki dari area cucian. Ketika Bram pernah tidak terlihat, Patty cepat-cepat berlari menuju area cucian. Dia memikat seluar dalamnya yang semula digunakan Bram untuk masturbasi. Celana itu penuh dengan cairan putih bening berbau pandan.
Tiba-tiba Patty teringat dengan teko airnya…
-
Bram belek bu Patty. Lebih acap dari biasanya. Seakan-akan adam hanya ada bu Patty. Bram pun merasa bahwa Bu Patty semakin memperhatikan dirinya. Bertanya, berbasa-basi, dengan apalagi mengobrol dengan dia dengan Minah di belakang rumah. Sebelumnya tidak suah sekalipun bu Patty memanggil dengan menganjur ngobrol mereka, membelokkan mahal hanya sapaan basa-basi ketika bersarang mobil.
Tidak hanya itu, Bram merasakan bahwa ada benda yang terjadi di antara mereka berdua. Bram suah berpikir bahwa Bu Patty agak-agak menggoda dia. Ketika berjalan di ambang Bram misalnya, sepertinya bu Patty melenggok-lenggokkan jalannya secara tidak wajar.
Bram lagi semakin acap diberi pemandangan, pemandangan bagus tepatnya, bagian-bagian badan bu Patty. Awalnya bagaikan tidak disengaja oleh bu Patty. Sesuatu jatuh, dengan bu Patty mengambilnya, tepat di ambang Bram. Cara mengambilnya pun sepertinya lebih durasi dari biasanya, meyakinkan bahwa Bram dapat membesuk dengan bayan jamal payudara besar yang berbalut BH berenda yang sepertinya kekecilan untuk volume sebesar itu. Suatu saat apalagi bu Patty asa bersandar di kursi, ketika ngobrol bersama Bram dengan Minah, menumpangkan kaki. Tentu saja rok kecil itu tidak kuasa menutupi jamal ceker bu Patty. Indah, sonder cacat, putih, dengan berkilat.
Hingga ala satu saat …
Pagi itu Bram selesai mengantar bungkus Philip ke bandara. Jam lagi menunjukkan pukul 9.00. Anak-anak pernah angkat kaki ke sekolah. Minah sibuk membersihkan basuhan kotor di ruang cucian, kedengaran bahana mesin cuci yang bising. Minah absolut tidak mengikuti Bram bersarang garasi. Bram bertekad. Hari ini atau tidak sama sekali. Akal sehatnya pernah hilang. Dia bersedia memikat resiko untuk benda yang agak-agak bakal dia sesali seangkatan hidup. Tapi dia kudu memikat resiko itu. Sekali seangkatan hidup. Dia merogoh sakunya. Dia siap.
Dia bersicepat ke atas eskalator ke dek dua. Bram tahu pasti, bu Patty belum angkat kaki kerja. Dengan depan yang berdegup kencang, pelan-pelan Bram mendekati pintu kamar utama, area bungkus Philip dengan bu Patty. Pintu itu terbuka sedikit. Bram cangkung dengan mengintip. Dilihatnya bu Patty cukup membesuk pemandangan bustan belakang dari balkon. Inilah saatnya. Kepalanya seakan melayang, pusing atas degup jantung yang terlampau keras. Telinganya panas.
Bram pelan membongkar pintu, berjalan sonder suara, dia pernah berbatas di belakang bu Patty, menangkup mulutnya, sekali lalu menodongkan sebuah belintan alit ke pinggang bu Patty.
Maaf Bu, aku tidak takut-takut mempan ibu jika ibu menolak permintaanku, kata Bram tegang. Seumur hidupnya, belum suah dia melakukan kejahatan, sekecil apapun. Tapi nafsu birahi yang sejenis itu tinggi tidak tertahankan belah Bram yang anak muda itu. Tubuh sintal itu berontak di pautan Bram. Bram menekan lagi pisaunya ke pinggang Bu Patty. Tentu dia akurat sekali untuk tidak menekan dengan muka yang tajam.
Bu, ingat, sekali ibu berteriak minta tolong, belintan ini bakal makan badan ibu. Ibu paham itu?
“IBU PAHAM ITU?”
Patty mengangguk.
Bram merasakan badan itu melembek di dekapannya. dengan kemudian gemetar. Tangan Bram membebaskan mulutnya, dengan mulai bergerak membelai belahan depan Patty, gontai sekali. Tangan itu menyelusup di celah kerah blus kerja Patty yang berbelahan agak rendah.
“Sudah durasi aku membayangkan saat bagaikan ini bu,” bisik Bram. Tangan kirinya menemukan bongkahan buah dada yang tertutup half cup bra. Segera saja yad itu itu barbar meremas. Patty mendesah.
“Bram, awak akan apa? Jika uang, aku bisa berikan masa ini juga, berapapun awak mau, tapi jangan …” bahana Patty bergetar. Lemah. Seperti sonder penolakan yang berarti.
“Ibu tahu persis barang apa yang aku akan …,” bisik Bram. Bram mendadak saja sejenis itu berani.
“Bram, awak ga bakal lolos dari semua ini. Kamu bakal bersarang penjara lama, aku bisa meyakinkan hal itu. Oohhhhhhh!!!” Patty lagi mengancam, tapi suaranya semakin lemah, terlebih selepas dia merasakan jari Bram memelintir puting kanannya.
“Ibu yakin?”
Patty tidak menjawab. Dia merasakan tonjolan keras yang menempel di bokongnya yang padat. Dia merasakan hembusan nafas Bram yang sejenis itu dekat, ada di belakang lehernya. Bulu gitok Patty langsung tegak. Kakinya lemas. Tapi dia tahu betul, bukan ketakutan juga yang menguasai, tapi birahinya. Patty merasakan kegatalan yang asing biasa di vaginanya.
Bram tampaknya sadar bahwa korbannya pernah menyerah. Pisaunya dia jatuhkan, dengan kedua tangannya pun aktif lebih jauh. Sekarang keduanya meremas kedua bola kutil eigendom Patty, selama Mulutnya dengan bengis cucup gitok Patty, dengan akibatnya Patty pun mendesah. Kali ini layak keras. Patty yang awalnya menolak, tidak mampu mempertahankan penolakannya itu. Kepalanya berbalik dengan menyongsong bibir bengis Bram, dengan tangannya menyambut kedua yad Bram yang agresif menyerang kedua payudaranya. Baju baju yang awal rapi itu pun terbuka kancingnya, kembali BH yang menangkup warna aswad yang ada di dalamnya. Kedua payudara itu pun masa ini sonder penghalang.
Tangan Patty bersandar ala teralis anjung yang sempit itu. Otomatis tubuhnya membungkuk, dengan Bram seakan paham barang apa yang dia kudu lakukan selanjutnya.
Pemandangan di ambang Bram sungguh mempesona. Sejenak Bram menyadari sejenis itu beruntungnya dia. Rok kecil itu tidak kuasa membalut kepadatan bokong Patty, lagi ceker bagus yang jenjang. Dalam posisi menghormat itu, garis seluar dalamnya tidak kelihatan! Apakah Patty tidak memakai seluar dalam?
Tangan Bram pelahan menaikkan rok kecil itu ke atas, memunculkan bongkahan pantat indah. Tiba-tiba yad Patty menahannya.
“Bram …”
Bram berhenti.
“Sebaiknya kita beradu saja …”
Bram segera menampar pantat bu Patty.
“Ohhhhh! sakitttt!”
“Ibu lagi akan mundur selepas sejenis itu jauh?”
“Jangan Bram … kumohon …”
Tapi sayangnya arang Patty berlawan terbalik dengan tangannya. Tangannya membebaskan yad Bram, dengan yad bram dengan leluasa menaikkan rok kecil itu, masa ini di pinggang Patty.
Bram anyar tahu bahwa bu Patty menggunakan seluar dalam, tapi alit sekali, tampak hanya bagaikan garis di bagian pantatnya. Kelak Bram tahu itu namanya thong. Dengan mudahnya Bram merobak seluar di itu.
ugh, jerit Bu Patty lirih. cairan mata menetes di pipinya. Bram tahu dia berkuasa atas badan bagus ini.
Bram membongkar ikat pinggang celananya, dengan kemudian seluar dalamnya. Penisnya merasakan udara bebas. Tegak keras mengacung dengan kepalanya yang berkilat. Urat-uratnya tampak jelas. Ketika bahana ikat pinggangnya jatuh, impulsif bu Patty melawat ke belakang.
Ooooh, tii..daakk…itu terlampau besar, sekali lalu berulangkali mengoleng kepalanya.
Bu Patty, sembarang orang yang memerintahkan ibu melawat ke belakang, heh? Tangan Bram melayang juga ke pantatnya.
Patty menjerit kecil.
Bram mengelus pantat bagus itu, ketika tangannya bersentuhan dengan kulit lembut pantat bu Patty. Tangannya yang begar seakan-akan sengatan listrik di badan bu Patty. Bu Patty bergetar hebat.
Bram menyentuh belahan di paha bu Patty, kemudian ke atas ke hadap vagina bu Patty. Mulut Vagina itu terpampang bayan di ambang Bram. Tercukur halus, dengan bukit yang tidak terlampau menonjol. Benar-benar sebuah figur yang sempurna. Tangan Bram membelai vagina itu, jarinya menarik lipatan labia yang pernah basah itu, dengan menemukan klitorisnya. Patty menjerit kecil.
Penis Bram berdebar kencang, seakan-akan satu saat bakalan muncrat.
Bram tidak tahan. Dia kudu bersarang sekarang. Bram membidikkan kesudahan penisnya ke lipatan vagina bu Patty. ePerlahan, burung itu mulai masuk, membuka ke dalam.
“Bram, pelannn …”
Bu Patty menggoyangkan pantatnya. Bram yakin itu. Kepala burung Bram semakin mudah bersarang ke di vagina yang pernah sangat basah itu. Begitu semuanya bersarang di vagina bu Patty, Bram berhenti. Dia ingin menghayati momen-momen ini. Mungkin yang terakhir di hidupnya, apabila selepas ini dia dipenjara atas tuduhan perkosaan.
Dia seakan-akan mengikuti gelegar cemeti dewa ketika kemudian mengikuti suara.
Bram, ayoo, bisik bu Patty.
Bram tersadar.
Pantatnya mulai bergoyang, maju mundur pelan sekali, takut bahwa bu Patty kesakitan dengan berubah pikiran. Juga dengan kenyataan bahwa penisnya pernah sejenis itu sensitif selepas bengkak layak lama.
Bramm …, yad bu Patty menarik pantat Bram. Bram paham bahwa Bu Patty ingin goyangannya lebih cepat.
Dan kemudian terjadilah. Dua badan akmal bergerak seirama. Bram ada pinggang bu Patty, dengan kedua yad bu Patty caplok erat kusen jendela balkon. Bu Patty mendesah, dengus nafasnya semakin cepat, bagaikan halnya Bram.
Dua badan itu bergerak semakin cepat. Bram betul-betul menikmati koitus ini, dengan dia merasakan bahwa bu Patty pun juga. Tangan Bram merengkuh kedua payudara gempal itu, dengan Patty menyambutnya dengan ada yad kekar itu.
Lenguhan bu Patty semakin banter dengan tiba-tiba, badan bu Patty bergetar. Bram merasakan denyutan vagina caplok penisnya. Bu Patty menjerit kecil.
Ooh, uhm, uhm.
Bram tahu dia terpuaskan. Bram beradu sejenak berbatas denyutan itu melemah.
“Teruskan Bram, aku tahu awak belum …,” bisik Patty lemah.
Bram pun lagi menggenjot, merasakan bahwa dirinya semakin dekat. Tak berapa lama, Bram pun mencapai puncak. Dia ejakulasi. Di di vagina bu Patty. Bram menarik penisnya yang masa ini lembut tulang tidak berdaya. Bu Patty bersandar tersimpuh. Kakinya bokoh akibat orgasme yang semula sejenis itu hebat. Tampak cairan cinta mereka empat mata menetes di lantai.
Cerita Sex Selingkuh Ngentpt Bu Patty Majikanku Yang Mempunyai Tubuh Mulus - Om Akhsan, mamak Bram, pernah 1 bulan ini sakit-sakitan. Bram merasa bersalah. Dua tarikh dia menumpang di rumah pamannya ini, untuk kuliah di sebuah bimbingan didikan komputer. Istri Om Akhsan, Bibi Ena, mengaku seluruh beban keluarga, dengan Bram dengan 3 orang anak mereka yang lagi kecil. Sebelum sakit-sakitan, Paman beraksi sebagai supir di keluarga Wijaya. Cukup lama, sekitar 5 tahunan. Bi Ena yang beraksi sebagai buruh cuci pun beraksi bonus keras untuk sekedar bisa makan. Aku? aku mengandalkan kiriman orang tuaku, lebih tepatnya ibuku atas aku anak yatim, yang tidak seberapa dari kampung, lagi untuk sekedar sumbangan belah Paman dengan Bibi.
Cerita Ngentot - Om, boleh ga aku pertanyaan sesuatu? Bram berkata satu musim kepada pamannya yang terbaring lesu di ranjang sempit.
Penyakitnya didiagnosis sebagai pneumonia, dengan dia kudu istirahat habis-habis-an di rumah, jika tidak, paru-parunya bakal terisi banyak cairan, dengan dia bakal lebih lembut tulang lagi. Untungnya keluarga WIjaya baik hati, mereka mengaku seluruh biaya rumah sakit Om. Sayangnya itu berarti Om Akhsan kudu beradu habis-habis-an dari pekerjaannya. Jika tidak, hanya masalah waktu setelah pneumoninya kambuh lagi.
Apa Bram?
“Yang gantiin paklik di rumah bungkus Wijaya siapa?”
“Ya, kemarin si Cipto bersedia gantiin, tapi ternyata ga betah. Katanya kebanyakan nganterin, mending bawa kontener katanya” kata Om Akhsan lesu.
“Kalo aku aja gimana Om?”
“Maksud lo?”
Boleh ga, aku gantiin mamak oke sopir di rumah Wijaya? pertanyaan Bram.
“Heh? pakcik awak bisa nyetir? ini Mercy lho, sedan, bukan bis.”
“Emangnya Sumber Kencono, om?”
Mereka tertawa bersama.
“Bisalah om, ni liat,” Bram mempersaksikan SIM Anya.
Bram, Aku tidak bisa mengijinkan hal itu, kata Paman dengan beban hati.
“karena Om udah janji sama almarhum Bapak kan? Aku ga bisa liat Bi Ena terus-terusan kaya gitu Om, dengan lagi pula kuliahku di BSI pernah hampir selesai,” kata Bram lagi.
Pamannya mengingat perjanjiannya dengan ayah Bram, ketika mereka lagi kuliah. Dia berjanji bahwa ketika ada benda terjadi ala ayah Bram, dia bakal bertanggung jawab sepenuhnya akan bernapas Bram, dengan itu berarti bahwa dia tidak bakal agak-agak memaksa Bram untuk bekerja, mendukung rumah tangganya.
Paman, aku kudu bekerja! Aku betul-betul tidak tega membesuk Bi Ena mengaku semuanya sendiri.
Sekilas mereka empat mata membesuk ke hadap Bi Ena yang cukup sibuk menyuapi anak terkecil mereka. Istri Om Akhsan memandang mereka, dengan bagaimanapun kuat seorang lelaki, ajaran itu melarutkan lever Om Akhsan.
OK, Bram, aku bakal menelepon bungkus Wijaya untuk mengabarkan penggantiku.
Rumah keluarga Wijaya di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan, sungguh glamor dengan sangat luas. Bram hanya bisa terkagum-kagum membesuk isi rumah bagaikan kastel itu. Rumahnya punya lobi, bagaikan hotel, dengan sebuah mobil glamor Mercedes ada di situ.
Bram bersarang selepas dibukakan pintu oleh bi Minah. Kikuk dengan suasana yang sama sekali berbeda dengan rumah Om Akhsan, Bram bersandar tepekur, selama Pak Philip bersandar di depannya sekali lalu menerima telepon dari seorang rekan bisnisnya. Sebelum itu, Pak Philip berkata bahwa dia pernah tahu melanda bakal datangnya pelanjut Pak Akhsan.
OK, Bram, awak mulai beraksi besok pagi. Tugasmu adalah mengantar ketiga anakku dengan istriku kemanapun mereka pergi. Kamu boleh menginap di sini, atau awak boleh pulang pergi. Tapi, awak kudu standby di rumah ini mulai jam 6 pagi, membersihkan mobil, dengan setelahnya, awak kudu siap kapanpun anak-anakku atau istriku memanggilmu. Itu jika awak memilih untuk pulang pergi.
Baik, pak. Om menyarankan abdi untuk menginap di aku saja pak. Ini lagi abdi pernah bawa blus gantinya, jawab Bram.
Minah bakal mengantarmu ke kamar sopir. Minah! menamai bungkus Philip kepada satu-satunya ajudan di rumah besar itu.
Seorang wanita anak muda dengan aksesori sederhana kemudian muncul sembari tersenyum manis kepada Bram. Mari mas Bram, abdi bantuin angkat barangnya, kata Minah.
Hari-hari berlangsung banter di minggu itu. Bram dengan banter menyesuaikan diri di rumah keluarga Wijaya, selepas lebih dahulu bergaul dengan ketiga anak keluarga Wijaya, yang secara mengejutkan mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan, tidak bagaikan bayangan Bram awal tentang bawah umur orang kaya yang agak-agak sombong, pilih-pilih teman. Yang tertua, Sisca, betul-betul pribadi yang mengagumkan. Cantik, pintar, aib hati, dengan humoris. Steven, nomer dua, betul-betul konyol dengan seorang penggila sepakbola. Tifanny, si bungsu, betul-betul anak yang manis, penurut, dengan lebih berkenan bermain di di dunianya sendiri. Bram belum suah bertemu dengan bini bungkus Philip, atas Ibu Patty, panggilan bini bungkus Philip, cukup berada di Singapura untuk urusan bisnis.
Bram melaksanakan aktivitasnya setiap hari, mengantar ketiga anak itu kemanapun mereka akan pergi, dengan kudu diakui, pekerjaan itu betul-betul melelahkan. Sisca, seorang siswi SMA Internasional terkenal di Jakarta Selatan, membelokkan acap angkat kaki membawa mobil, tentu saja dengan Bram sebagai sopirnya.
Mas Bram, nanti tolong anterin Sisca ke hostel P*****n dong, ada pesta Prom Night nih, rayu Sisca satu sore ketika Bram cukup bersandar santai di teras belakang, ngobrol dengan Minah.
Sore itu matahari sungguh indah, memancar menjelang tenggelam. Sinarnya berwarna kecemerlangan menyinari sosok Sisca yang sempurna. Kuning langsat, dengan badan yang menawan. Dia memakai tanktop warna biru anak muda dengan benang kecil, dengan seluar putih super pendek, bagaikan kebiasaannya. Tali BHnya hadir di bahunya. Warnanya biru.
Gitu aja mengapa kudu nanya sih non. OK deh non, akan jam berapa berangkatnya? pertanyaan Bram, tampak terlampau semangat.
Jam 7 kita angkat kaki baiklah mas. aku dah pamit ama papa kok.
Cerita Seks Dewasa - Dia kemudian bersandar cangkung sekali lalu bermain cairan di alahan ikan di dekat area bersandar Bram dengan Minah. Bram terpana. Itu bukan pemandangan yang dilihat Bram setiap hari, apalagi seangkatan bernapas Bram. Oh Tuhan, pikir Bram dengan jantung yang berdegup kencang. Tanpa disadari Sisca, posisinya membuat bagian dadanya terlihat. dengan itu bukan bagian depan yang biasa. Belahan itu dalam, membentuk jalur yang panjang dari pangkal depan ke hadap blus tanktop. Begitu indah, dengan kulit asfar langsat sonder cela. Belahan depan itu berguncang-guncang mengikuti gerakan tangan Sisca yang bermain cairan kolam. Bahkan sekilas Bram membesuk renda BH Sisca.
Pemandangan itu sayangnya tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Minah beralih dari area duduknya dengan menganjur Sisca bersarang ke di rumah. Tidak baik anak cewek di asing pas Maghrib, katanya.
mas Bram, Pak Akhsan gimana kabarnya sekarang? pertanyaan Sisca membongkar percakapan. Malam itu Bram mengantar Sisca ke Prom Night di sebuah hostel berbintang di Jakarta Pusat.
Sisca memakai blus malam yang sangat mewah, dengan model kemben terusan, dengan rok kecil di atas dengkul. Model yang layak pendek, sehingga setiap orang absolut bisa membesuk jamal ceker tangga Sisca yang bagus berkilat itu. Bram berusaha tidak membesuk bahan itu, mengingat Sisca adalah anak majikannya.
Lobby Hotel yang gemerlap itu penuh sesak dengan bawah umur ABG tajir yang merayakan Prom Night ketika mereka berbatas di sana. Mobil yang disupiri Bram beradu tepat di ambang lobby, selepas ngantri beberapa saat atas semua anak ABG itu diantarkan oleh sopir atau orangtuanya. Bram bersicepat keluar, dengan menegasikan pintu untuk Sisca, sebuah kebiasaan anyar yang dipelajarinya dari Om Akhsan.
Bram sungguh menyukai kebiasaan anyar itu, atas ketika dia menegasikan pintu Sisca, dia membesuk lagi pemandangan bagus yang dilihatnya sore itu. Ketika Sisca cabut dari mobil, ceker kirinya melangkah pelan cabut dari mobil. kakinya yang tangga hadir bayan ditimpali lampu lobby hostel yang benar benderang. Pahanya sekilas terlihat, betul-betul sonder cacat cela. Belum juga pemandangan selanjutnya, betul-betul memukau. Ketika Sisca kecil menghormat untuk cabut dari mobil, dadanya yang hanya ditutupi blus malam model kemben membentuk lekukan di berbentuk V terbalik. Renda BHnya curi dari bagian depan itu. sepertinya BH tersebut tidak kuasa menahan volume bukit bagus Sisca.
Bram coli malam itu, mula-mula kali di asal usul hidupnya …
Mami, kenalin, ini mas Bram, sopir kita yang baru, kata Tiffany menyeret ibunya.
Saya Bram bu, pelanjut bungkus Akhsan, kata Bram sekali lalu menjabat tangan Bu Patty.
“Hallo,” sapanya singkat.
Oh, oke ini bini bungkus Philip, Ibu Patty. Bram pernah suah membesuk foto sebelumnya.
Bu Patty adalah seorang wanita yang mencerminkan anggapan Bram selama ini melanda wanita kaya. Glamor, dengan pakaian yang hadir mewah, perhiasan yang kentara, dengan make up yang asing biasa. Umurnya sepertinya akhir 40an. Yang membuat kagum Bram, dengan umurnya, Bu Patty sungguh luarbiasa menawan. Jantung Bram berdegup jencang ketika yad dia menyentuh yad bu Patty. Kulitnya sungguh halus, dengan tubuhnya yang sejenis itu harum, membuat Bram terpaku. Seumur hidupnya, belum suah dia membesuk sosok wanita bagaikan itu. Maklum, orang kampung. Dia memakai blus kerja hem cermat warna pink. Roknya cepak sampai lutut, memamerkan ceker tangga dengan sepatu hak tinggi.
Seperti sejarah Tiffany, bu Patty anyar saja pulang dari Singapura. Bu Patty segera melampaui Bram dengan Tiffany, menemui teman-temannya di ruang tamu. Bram curi dari dapur, belek begandring di ruang tamu. Teman-teman bu Patty tidak jauh beda dari bu Patty. Elegant, glamor, setengah baya, namun super seksi.
Bram tidak tahu mengapa. Sejak saat itu dia terobsesi dengan wanita setengah baya.
Bram coli malam itu, sungguh nikmat …
membayangkan bu Patty dengan segala kelembutannya, keharumannya, membayangkan wanita itu mengeluarkan burung Bram dari celana, mengelusnya dengan tangannya yang lembut …
Sejak bu Patty datang, kegiatan Bram didominasi dengan daftar membawakan bu Patty kemanapun dia pergi. Ya, dengan Bram membaca partner supir baru, mas Yanto yang bertugas mengantar anak-anak.
Pak Philip akan orang yang bisa dipercaya untuk mengantar bu Patty, bukan orang baru. Bukannya apa-apa, bu Patty acap membawa barang-barang berarti atas pergaulannya. Arisan berlianlah, arisan wisatalah.
Setiap musim ada saja daftar bu Patty, dari mulai bertemu dengan kolega berbatas makan malam di restoran atau hostel mewah. Dan sungguh, membawakan bu Patty betul-betul membuat Bram kecanduan. Bu Patty mempunyai kebiasaan memakai gaun-gaun glamor yang seksi, yang dipastikan berkelaluan memamerkan lekuk tubuhnya, dengan pinggang yang indah, ceker jenjang, dengan depan yang membusung indah. Dada bu Patty bisa dibilang istimewa, besar, tampak padat, dengan Bram tidak suah melewatkan kesempatan untuk mengamatinya, baik ketika di mobil atau di rumah.
Pernah Suatu kali ketika Bram mengantar bu Patty ke sebuah pesta, bu Patty memakai busana malam warna aswad dengan dengan bagian yang sangat rendah, mempersaksikan hampir seluruh bulatan dadanya. Bram bersumpah, dia membesuk sekilas puting buah dada bu Patty ala saat dia cabut dari mobil. Warnanya abang kecoklatan, dengan lingkaran sekitar puting yang berwarna sama. Bram merasakan penisnya berkhianat seketika sejenis itu membesuk pemandangan yang mendebarkan itu. Penis itu tidak mengecil berbatas malamnya mereka lagi ke rumah Wijaya.
Rumah Wijaya lagi sepi rendah daif} sore itu. Hari yang dingin, dengan hujan yang sangat deras. Pak Philip dengan ketiga anaknya angkat kaki ke Hongkong untuk berwisata, melampaui Bram, Minah, dengan bu Patty.
Bram bersandar di kamarnya seorang diri, menonton TV. Tangannya berperan mengelus penisnya yang bengkak sedari tadi. Minah pernah terlelap tidur kelelahan selepas seharian mendukung packing bawah umur Wijaya. Sejak membesuk pemandangan terakhir itu, Bram jadi berkelaluan terangsang setiap hari, dengan berkelaluan akhirnya, coli lah yang jadi pelarian.
Petir menggelegar. Bram cabut dari kamarnya dengan menuju ruang cucian. Dia perlu pelampiasan selepas terangsang terus-menerus. Entah setan barang apa saja yang membujuk dirinya, ada sebuah dorongan yang mendorong dia angkat kaki ke area cucian. Dorongan kuat yang membuat dirinya seorang diri heran. Dia mulai membikin-bikin benda di tumpukan pakaian. Sesuatu yang bisa dia membubuhkan untuk melampiaskan nafsu birahinya.
Tidak lama, diapun menemukannya. Tumpukan BH dengan seluar dalam, yang dia tahu absolut bukan eigendom Minah atau Tiffany, atas bentuknya. Bram memikat salah satu BH. BH itu berwarna abang dengan benih sutra, dengan renda-renda di belahan cupnya. Tali bahu dengan benteng belakangnya kecil, sebanding 1 cm. Bram cucup BH itu. Bau harum Sisca yang khas langsung merebak. Tangan kiri Bram meraba penisnya yang sangat tegang, meskipun yad kanannya ada BH itu di ambang hidungnya. Bram menciumnya. Sedapp sekali.
Bram betul-betul terangsang. Dia kemudian membongkar seluar pendeknya, mengeluarkan penisnya dengan mulai meremas-meremasnya. Ooh, sejenis itu nikmatnya. Kemudian dia membikin-bikin lagi. Sebuah seluar di seksi, dengan bagian pinggang yang tinggi jadi pilihannya. Pasti itu eigendom Bu Patty. Celana itu merah, tipis dengan benih sutra yang sangat halus. Rendanya betul-betul membuat Bram terangsang. Renda itu berada di belahan depan, dengan di belahan elastisnya. Renda di belahan ambang mempunyai belahan yang kecil tembus memandang -- bulu pilih bulu yang apabila dipakai, hampir absolut memamerkan bulu-bulu lembut vagina wanita. Tangan Bram segera membawa seluar di itu ke ambang hidungnya. Bram cucup aroma pesing yang mengherankannya, tidak membuat dia mual, tapi oke semakin terangsang.
Bram mulai mengeluskan seluar di itu ke penisnya yang sangat tegang. Sensasi halus benih seluar di itu membuatnya tidak bertahan lama. Sebentar saja, cairan putih lengket menempel di seluar di itu. Sperma Bram. Lega rasanya.
Dari pengalaman itu, Bram mengetahui bahwa bu Patty menggunakan BH ukuran 36C, dengan Sisca 34B.
Keesokan harinya Minah membersihkan pakaian-pakaian di ruang cuci. Bram beruntung. Minah tidak menemukan seluar di yang ditempeli sperma Bram.
Patty bukannya tidak buta. Sopir anyar itu, Bram, lagi muda. Tinggi, atletis, sepertinya Bram benar bukan anak desa kebanyakan. Dari matanya hadir dia orang yang cerdas. Bram sangat tanggap atas perintah Patty.
Patty sungguh terkesan dengan segala tingkah lakunya. Pak Akhsan benar betul-betul mendidiknya untuk jadi sopir yang baik. Bagi Patty, mempunyai sopir yang gentleman jadi sebuah kebanggaan yang dapat dia tunjukkan ke teman-temannya.
Tiba-tiba Patty oke acap memperhatikan Bram. Bukan sonder sengaja. Patty membesuk bahwa Bram pun acap sembunyi-sembunyi memandang -- bulu pilih bulu dia. Kadang jika Patty membesuk Bram dengan sengaja, Bram tampaknya langsung malu dengan membalikkan muka. Dan entah kenapa Patty merasakan benda yang lain. Ada satu perasaan yang dia pernah durasi tidak rasakan. Perasaan diinginkan. Oleh seorang laki muda. Patty merasakan tubuhnya menggigil. Sendirian. di ranjang super King di kamar utamanya. Bukan atas kedinginan, tapi atas nafsu. Tak tertahankan. Tangannya menyelip saja di di hotpants. Mencari pelepasan.
Hujan deras, dengan cemeti dewa menggelegar.
Patty cabut dari kamar. Sore itu sungguh dingin, atas hujan yang sejenis itu deras. Dia perlu menghangatkan dirinya dengan secangkir coklat. Panas dengan manis. I really need that, pikirnya.
Patty tidak terlampau peduli dengan blus yang dikenakannya. Toh, lagipula tidak ada orang di rumah sebesar itu. Minah dengan Bram ada di belakang, dengan tidak agak-agak mereka berani bersarang rumah utama, ala saat Patty hanya sendirian di rumah. Sebuah tank top warna pink, layak ketat, dengan bawahan hotpants. Patty merasa diri sangat seksi. Kostum wajibnya di rumah, yang dulu berkelaluan disukai Philip. Ya, dulu. Kini tidak lagi. Philip terlampau sibuk dengan daftar akuisisi, merger, ekspansi di sektor properti, valuta asing.
Patty beralih ke dapur. Dia menjerang cairan di sebuah teko kecil, sekali lalu memikat coklat di kitchen set, dekat dengan ruang cucian. Dan dia terkejut membesuk pemandangan di area cucian. Dari muka dapur, ruang basuhan hadir jelas, tapi orang yang di ruang basuhan absolut tidak bisa membesuk sembarang orang yang ada di dapur. Dan Patty membesuk sesosok badan laki-laki. Apa yang cukup dia lakukan di ruang basuhan ala saat hujan deras? Yang absolut bukan untuk membersihkan pakaian. Sejenak Patty curiga.
Ya, itu absolut Bram.
Patty mengintip, dengan merasakan kakinya melemah, ketika membesuk barang apa yang cukup dilakukan Bram.
Bram cukup ada seluar dalamnya. Tidak hanya itu saja, seluar di Patty diusap-usapkan, sepertinya ke burung Bram. Patty tidak bisa membesuk dengan jelas, atas dia hanya bisa membesuk badan Bram dari belakang. Dan badan itu sungguh badan ideal. Patty membesuk bahwa Bram mempunyai pantat yang sungguh berotot. Celana Bram turun berbatas ke lutut kaki. Ya, Bram cukup bermasturbasi dengan seluar dalamnya.
Ooh, rasa itu muncul lagi. Patty merasakan putingnya mulai mengeras. Tidak tahan membesuk pemandangan itu, Patty secara tidak sadar mulai meremas-remas dadanya. Pertama kali di hidupnya, dia merasa sangat terangsang sonder ada seseorangpun di dekatnya. Tangan kanannya menyusuri belahan di pahanya, kemudian bersarang pelan-pelan ke di bolongan ceker seluar hotpantsnya. Tangan yang mendadak lihai itu mencari benda yang basah di bawah sana, dengan mulai bersarang ke dalamnya. Oooh, feels great, really great, pikir Patty ketika tangannya mulai beraksi, merangsang tonjolan alit di vaginanya. Patty semakin banter merangsang dirinya, selama di area cucian, Bram lagi sepertinya semakin mendekati kulminasi kenikmatan, hadir dari tangannya yang semakin cepat. Jantung berdegup semakin cepat, mata Patty nanar, dengan meledaklah orgasmenya. Satu kali selepas sekian lama. Sepertinya Bram pun hendak mencapai ejakulasinya, tatkala dari jauh, hadir tubuhnya bergetar hebat.
Patty berusaha mengendalikan tubuhnya selepas orgasme yang hebat. Dia mengendap di ambang kitchen set, dengan mengikuti Bram beralih angkat kaki dari area cucian. Ketika Bram pernah tidak terlihat, Patty cepat-cepat berlari menuju area cucian. Dia memikat seluar dalamnya yang semula digunakan Bram untuk masturbasi. Celana itu penuh dengan cairan putih bening berbau pandan.
Tiba-tiba Patty teringat dengan teko airnya…
-
Bram belek bu Patty. Lebih acap dari biasanya. Seakan-akan adam hanya ada bu Patty. Bram pun merasa bahwa Bu Patty semakin memperhatikan dirinya. Bertanya, berbasa-basi, dengan apalagi mengobrol dengan dia dengan Minah di belakang rumah. Sebelumnya tidak suah sekalipun bu Patty memanggil dengan menganjur ngobrol mereka, membelokkan mahal hanya sapaan basa-basi ketika bersarang mobil.
Tidak hanya itu, Bram merasakan bahwa ada benda yang terjadi di antara mereka berdua. Bram suah berpikir bahwa Bu Patty agak-agak menggoda dia. Ketika berjalan di ambang Bram misalnya, sepertinya bu Patty melenggok-lenggokkan jalannya secara tidak wajar.
Bram lagi semakin acap diberi pemandangan, pemandangan bagus tepatnya, bagian-bagian badan bu Patty. Awalnya bagaikan tidak disengaja oleh bu Patty. Sesuatu jatuh, dengan bu Patty mengambilnya, tepat di ambang Bram. Cara mengambilnya pun sepertinya lebih durasi dari biasanya, meyakinkan bahwa Bram dapat membesuk dengan bayan jamal payudara besar yang berbalut BH berenda yang sepertinya kekecilan untuk volume sebesar itu. Suatu saat apalagi bu Patty asa bersandar di kursi, ketika ngobrol bersama Bram dengan Minah, menumpangkan kaki. Tentu saja rok kecil itu tidak kuasa menutupi jamal ceker bu Patty. Indah, sonder cacat, putih, dengan berkilat.
Hingga ala satu saat …
Pagi itu Bram selesai mengantar bungkus Philip ke bandara. Jam lagi menunjukkan pukul 9.00. Anak-anak pernah angkat kaki ke sekolah. Minah sibuk membersihkan basuhan kotor di ruang cucian, kedengaran bahana mesin cuci yang bising. Minah absolut tidak mengikuti Bram bersarang garasi. Bram bertekad. Hari ini atau tidak sama sekali. Akal sehatnya pernah hilang. Dia bersedia memikat resiko untuk benda yang agak-agak bakal dia sesali seangkatan hidup. Tapi dia kudu memikat resiko itu. Sekali seangkatan hidup. Dia merogoh sakunya. Dia siap.
Dia bersicepat ke atas eskalator ke dek dua. Bram tahu pasti, bu Patty belum angkat kaki kerja. Dengan depan yang berdegup kencang, pelan-pelan Bram mendekati pintu kamar utama, area bungkus Philip dengan bu Patty. Pintu itu terbuka sedikit. Bram cangkung dengan mengintip. Dilihatnya bu Patty cukup membesuk pemandangan bustan belakang dari balkon. Inilah saatnya. Kepalanya seakan melayang, pusing atas degup jantung yang terlampau keras. Telinganya panas.
Bram pelan membongkar pintu, berjalan sonder suara, dia pernah berbatas di belakang bu Patty, menangkup mulutnya, sekali lalu menodongkan sebuah belintan alit ke pinggang bu Patty.
Maaf Bu, aku tidak takut-takut mempan ibu jika ibu menolak permintaanku, kata Bram tegang. Seumur hidupnya, belum suah dia melakukan kejahatan, sekecil apapun. Tapi nafsu birahi yang sejenis itu tinggi tidak tertahankan belah Bram yang anak muda itu. Tubuh sintal itu berontak di pautan Bram. Bram menekan lagi pisaunya ke pinggang Bu Patty. Tentu dia akurat sekali untuk tidak menekan dengan muka yang tajam.
Bu, ingat, sekali ibu berteriak minta tolong, belintan ini bakal makan badan ibu. Ibu paham itu?
“IBU PAHAM ITU?”
Patty mengangguk.
Bram merasakan badan itu melembek di dekapannya. dengan kemudian gemetar. Tangan Bram membebaskan mulutnya, dengan mulai bergerak membelai belahan depan Patty, gontai sekali. Tangan itu menyelusup di celah kerah blus kerja Patty yang berbelahan agak rendah.
“Sudah durasi aku membayangkan saat bagaikan ini bu,” bisik Bram. Tangan kirinya menemukan bongkahan buah dada yang tertutup half cup bra. Segera saja yad itu itu barbar meremas. Patty mendesah.
“Bram, awak akan apa? Jika uang, aku bisa berikan masa ini juga, berapapun awak mau, tapi jangan …” bahana Patty bergetar. Lemah. Seperti sonder penolakan yang berarti.
“Ibu tahu persis barang apa yang aku akan …,” bisik Bram. Bram mendadak saja sejenis itu berani.
“Bram, awak ga bakal lolos dari semua ini. Kamu bakal bersarang penjara lama, aku bisa meyakinkan hal itu. Oohhhhhhh!!!” Patty lagi mengancam, tapi suaranya semakin lemah, terlebih selepas dia merasakan jari Bram memelintir puting kanannya.
“Ibu yakin?”
Patty tidak menjawab. Dia merasakan tonjolan keras yang menempel di bokongnya yang padat. Dia merasakan hembusan nafas Bram yang sejenis itu dekat, ada di belakang lehernya. Bulu gitok Patty langsung tegak. Kakinya lemas. Tapi dia tahu betul, bukan ketakutan juga yang menguasai, tapi birahinya. Patty merasakan kegatalan yang asing biasa di vaginanya.
Bram tampaknya sadar bahwa korbannya pernah menyerah. Pisaunya dia jatuhkan, dengan kedua tangannya pun aktif lebih jauh. Sekarang keduanya meremas kedua bola kutil eigendom Patty, selama Mulutnya dengan bengis cucup gitok Patty, dengan akibatnya Patty pun mendesah. Kali ini layak keras. Patty yang awalnya menolak, tidak mampu mempertahankan penolakannya itu. Kepalanya berbalik dengan menyongsong bibir bengis Bram, dengan tangannya menyambut kedua yad Bram yang agresif menyerang kedua payudaranya. Baju baju yang awal rapi itu pun terbuka kancingnya, kembali BH yang menangkup warna aswad yang ada di dalamnya. Kedua payudara itu pun masa ini sonder penghalang.
Tangan Patty bersandar ala teralis anjung yang sempit itu. Otomatis tubuhnya membungkuk, dengan Bram seakan paham barang apa yang dia kudu lakukan selanjutnya.
Pemandangan di ambang Bram sungguh mempesona. Sejenak Bram menyadari sejenis itu beruntungnya dia. Rok kecil itu tidak kuasa membalut kepadatan bokong Patty, lagi ceker bagus yang jenjang. Dalam posisi menghormat itu, garis seluar dalamnya tidak kelihatan! Apakah Patty tidak memakai seluar dalam?
Tangan Bram pelahan menaikkan rok kecil itu ke atas, memunculkan bongkahan pantat indah. Tiba-tiba yad Patty menahannya.
“Bram …”
Bram berhenti.
“Sebaiknya kita beradu saja …”
Bram segera menampar pantat bu Patty.
“Ohhhhh! sakitttt!”
“Ibu lagi akan mundur selepas sejenis itu jauh?”
“Jangan Bram … kumohon …”
Tapi sayangnya arang Patty berlawan terbalik dengan tangannya. Tangannya membebaskan yad Bram, dengan yad bram dengan leluasa menaikkan rok kecil itu, masa ini di pinggang Patty.
Bram anyar tahu bahwa bu Patty menggunakan seluar dalam, tapi alit sekali, tampak hanya bagaikan garis di bagian pantatnya. Kelak Bram tahu itu namanya thong. Dengan mudahnya Bram merobak seluar di itu.
ugh, jerit Bu Patty lirih. cairan mata menetes di pipinya. Bram tahu dia berkuasa atas badan bagus ini.
Bram membongkar ikat pinggang celananya, dengan kemudian seluar dalamnya. Penisnya merasakan udara bebas. Tegak keras mengacung dengan kepalanya yang berkilat. Urat-uratnya tampak jelas. Ketika bahana ikat pinggangnya jatuh, impulsif bu Patty melawat ke belakang.
Ooooh, tii..daakk…itu terlampau besar, sekali lalu berulangkali mengoleng kepalanya.
Bu Patty, sembarang orang yang memerintahkan ibu melawat ke belakang, heh? Tangan Bram melayang juga ke pantatnya.
Patty menjerit kecil.
Bram mengelus pantat bagus itu, ketika tangannya bersentuhan dengan kulit lembut pantat bu Patty. Tangannya yang begar seakan-akan sengatan listrik di badan bu Patty. Bu Patty bergetar hebat.
Bram menyentuh belahan di paha bu Patty, kemudian ke atas ke hadap vagina bu Patty. Mulut Vagina itu terpampang bayan di ambang Bram. Tercukur halus, dengan bukit yang tidak terlampau menonjol. Benar-benar sebuah figur yang sempurna. Tangan Bram membelai vagina itu, jarinya menarik lipatan labia yang pernah basah itu, dengan menemukan klitorisnya. Patty menjerit kecil.
Penis Bram berdebar kencang, seakan-akan satu saat bakalan muncrat.
Bram tidak tahan. Dia kudu bersarang sekarang. Bram membidikkan kesudahan penisnya ke lipatan vagina bu Patty. ePerlahan, burung itu mulai masuk, membuka ke dalam.
“Bram, pelannn …”
Bu Patty menggoyangkan pantatnya. Bram yakin itu. Kepala burung Bram semakin mudah bersarang ke di vagina yang pernah sangat basah itu. Begitu semuanya bersarang di vagina bu Patty, Bram berhenti. Dia ingin menghayati momen-momen ini. Mungkin yang terakhir di hidupnya, apabila selepas ini dia dipenjara atas tuduhan perkosaan.
Dia seakan-akan mengikuti gelegar cemeti dewa ketika kemudian mengikuti suara.
Bram, ayoo, bisik bu Patty.
Bram tersadar.
Pantatnya mulai bergoyang, maju mundur pelan sekali, takut bahwa bu Patty kesakitan dengan berubah pikiran. Juga dengan kenyataan bahwa penisnya pernah sejenis itu sensitif selepas bengkak layak lama.
Bramm …, yad bu Patty menarik pantat Bram. Bram paham bahwa Bu Patty ingin goyangannya lebih cepat.
Dan kemudian terjadilah. Dua badan akmal bergerak seirama. Bram ada pinggang bu Patty, dengan kedua yad bu Patty caplok erat kusen jendela balkon. Bu Patty mendesah, dengus nafasnya semakin cepat, bagaikan halnya Bram.
Dua badan itu bergerak semakin cepat. Bram betul-betul menikmati koitus ini, dengan dia merasakan bahwa bu Patty pun juga. Tangan Bram merengkuh kedua payudara gempal itu, dengan Patty menyambutnya dengan ada yad kekar itu.
Lenguhan bu Patty semakin banter dengan tiba-tiba, badan bu Patty bergetar. Bram merasakan denyutan vagina caplok penisnya. Bu Patty menjerit kecil.
Ooh, uhm, uhm.
Bram tahu dia terpuaskan. Bram beradu sejenak berbatas denyutan itu melemah.
“Teruskan Bram, aku tahu awak belum …,” bisik Patty lemah.
Bram pun lagi menggenjot, merasakan bahwa dirinya semakin dekat. Tak berapa lama, Bram pun mencapai puncak. Dia ejakulasi. Di di vagina bu Patty. Bram menarik penisnya yang masa ini lembut tulang tidak berdaya. Bu Patty bersandar tersimpuh. Kakinya bokoh akibat orgasme yang semula sejenis itu hebat. Tampak cairan cinta mereka empat mata menetes di lantai.
Sampai di sini pembahasan tentang Cerita Sex Selingkuh Ngentpt Bu Patty Majikanku Yang Mempunyai Tubuh Mulus, semoga pembahasan ini dapat menghibur pembaca terima kasih
tulisan ini diposting pada tag , tanggal 29-08-2019


Komentar
Posting Komentar