
Foto Sex Jablay: Cerita Sex Siram Lubang Vaginaku - Hi, selamat siang ketemu kembali dengan website Ceritadewasa teramai pada kali ini kita akan bahas hal mengenai Seputar Cerita Hots Foto Sex Jablay: Cerita Sex Siram Lubang Vaginaku simak selengkapnya
Foto Sex Jablay Menyediakan konten khusus riwayat masa berupa : sex tante hot, riwayat abg mesum, sex memek perawan, sex sedarah nyata, ngentot bujang horny disertai foto bugil – Siram Lubang Vaginaku. Aku mempunyai jiran yang bernama Ibu Antik, beliau ditinggal suaminya meninggal dunia balasan serangan jantung, suaminya yang ada kalanya mabok mabokan menjadikan beliau serangan jantung dan mati mendadak, sebulan sehabis sepeninggalan suaminya Mba Antik tampak gelisah terlihat dari canda lakunya yang ada kalanya keluar masuk rumah.
Cerita Dewasa Siram Lubang Vaginaku
| Cerita Mesum Siram Lubang Vaginaku |
Dua anaknya yang masih alit agak-agak pernah tidur. Kadang ia beristirahat di bangku bujur di sudut rumahnya yang berseberangan dengan area kami nongkrong. Matanya menerawang jauh, agak-agak sehabis sebulan menjadi bujang ia berangkat merasakan sepinya beradu (hor) sendirian.
Usianya tentu belum terlalu tua, sekeliling tiga puluh lima tahun. Usia dalam gejolak, cakap judul film tarikh 80-an. Usia yang lagi matang-matangnya dengan antusiasme yang bergejolak. Punggungnya yang melengkung, bongkok udang rebon ebi cakap orang, menimbulkan fantasi erotis yang dalam biasa.
Mbak Antik menghenyakkan (diri) dirinya di arah bangku bujur yang didudukinya. Kedua kakinya dinaikkan ke arah bangku. Kami saling melihat dan menyikut sekali lalu tersenyum.
“Tuh pernah dikasih kode, sembarang orang berani duluan maju?” cacat seorang menyeletuk pelan.
“Dia gemar menunjukkan badannya masih oke punya,” yang lain menimpali. Akibatnya acara main gitar beres kacau berantakan. Tak rentang waktu Mbak Antik masuk balik ke dalam rumahnya. Akhirnya kamipun bubar pulang balik ke rumah masing-masing.
Karena kebelet pipis, aku berkelemban mengarah ke sumber di belakang rumah Mbak Antik. Baru sahaja kubuka ritsluiting celanaku terdengar pintu belakang rumahnya dibuka. Buru-buru aku naikkan lagi ritsluitingku.
“Eh Mbak Antik.. Belum tidur? Maaf numpang buang air Mbak. Sudah nggak tahan nih,” kataku tersipu malu.
“Kalau mau berkemih masuk aja ke dalam bilik mandi sana, beka kelihatan orang,” katanya. “Ya Mbak, maaf baiklah Mbak!” Akupun masuk ke dalam bilik mandi, selama Mbak Antik berdiri di akrab sumur. Kelihatannya ia jua gemar buang air kecil.
Sebentar akan datang akupun keluar dari bilik mandi dengan perasaan lega. Mbak Antik menggamit lenganku dan berkata, “To.. Tolong tungguin aku sebentar, aku mau pipis juga. Entah mengapa malam ini aku menganggap agak takut” Entah dengan terdesak atau senang lever kuturuti permintaannya.
Toh tidak memberatkan. Terdengar desisan air dan disusul dengan beberapa kali guyuran air. Aku pernah berangkat dengan analisa situasi. Sekarang ini agak-agak temanku yang rumahnya di samping ini belum beradu (hor) dan menungguku di depan.
Kupikir keadaan belum memungkinkan untuk beraksi, namun kutunggu berbatas Mbak Antik keluar dari bilik mandi untuk sekedar melihat sinyal atau bakat awal dari gerak tubuh dan sikapnya. Mbak Antik keluar dari bilik mandi.
Kuperhatikan sebentar, alih-alih tubuhnya tentu masih oke. Tingginya hampir sama denganku dengan pundak lebar dan kekar untuk seorang perempuan. Rambutnya keriting kediaman tergerai berbatas di kaki (gunung) bahu.
Ditunjang lagi dengan dadanya yang memadai besar, agak-agak 36. “Terima kasih To pernah menungguiku,” konon sekali lalu sedikit mendorong tubuhku agar ia bisa lewat. Aku aktual bangun alih-alih area aku berdiri tentu di akrab tembok pembatas sumber yang sempit, sehingga tidak bisa dilalui dobel orang bersama-sama.
Dengan gerakan bagai tanpa sengaja dadanya sengaja menggesek lenganku. Kurasakan sebentuk tekanan lembut ala lenganku. Sepertinya ia tidak memakai BH. “Ya Mbak. Sama-sama. Mari Mbak saya mau pulang,” kataku sekali lalu beranjak pergi.
Satu tanda menduga kudapat, tapi aku harus bersabar dulu. Tidak untuk malam ini, gumamku dalam hati. Mbak Antik masuk ke rumahnya lewat pintu belakang. Tapi kulihat pintunya belum tertutup dengan sempurna dan sedia bayangan di balik pintu.
Rupanya ia mengintipku dan menanti reaksiku. Aku melihat ke hadap pintu sekali lalu mesem dan bagai cukup membereskan posisi burungku yang miring. Beberapa hari akan datang aku cukup melintas di depan rumahnya tiba-tiba aku dipanggil.
“To.. Anto. Saya mau minta tolong sebentar. Tape saya suaranya tiba-tiba pecah. Boleh mempergiat minta tolong sebentar?” katanya. Ia memakai kulot biru dengan busur kuning berkerah tanpa lengan. Aku berpikir sebentar.
Sebenarnya aku tidak punya latar belakang keilmuan di bidang elektronika, hanya sekedar tahu sedikit saja. Kupikir tidak sedia salahnya berikhtiar menolongnya membereskan tape-nya. Kalaupun tidak bisa pasti beliau bisa memaklumi karena tentu bukan bidangku.
Aku masuk ke dalam rumahnya, kelihatan sepi karena anaknya masih sekolah. Setelah menjanda Mbak Antik berikhtiar membuka usaha salon keanggunan di rumahnya. Nampaknya usahanya berbuah dan berangkat membaca konsumen tetap.
“Mana tape-nya Mbak, biar saya lihat dulu?” tanyaku. “Ada di kamar, masuk sahaja ke kamar. Nggak apa-apa kok,” jawabnya. Aku masuk ke dalam bilik dan kuambil tape-nya dan beberapa kaset untuk berikhtiar lalu kubawa keluar.
Setelah kuhubungkan dengan cucuran listrik, aku berikhtiar menghidupkannya. Ternyata tentu suaranya tidak sempurna. Analisaku headnya kotor atau kendor bautnya. “Minta alkohol dan kapas Mbak! Kalau sedia obeng alit sekalian” Aku yakin beliau tidak punya head cleaner, beres biar kucoba bersihkan pakai alkohol saja.
Sebentar akan datang ia pernah balik dengan melanting kapas, sebentuk botol plastik alit dan obeng kecil. “Ini To. Alkoholnya nggak sedia tapi Bapaknya dahulu kalau membersihkan tape biasanya pakai ini,” sekali lalu mengangsurkan bawaannya.
Kuterima dan kuperhatikan, alih-alih dugaanku salah. Ia masih menyimpan head cleaner. Kubersihkan head tape dan rodanya, lalu kucoba menghidupkannya lagi. Lumayan, sekarang suaranya pernah berangkat bening, namun bas dan treblenya belum pas.
Kuambil obeng alit dan berangkat menyetel baut headnya. Beres, bahana tapenya balik normal. “Sudah Mbak. Beres, saat ini tinggal upahnya saja,” kataku sekali lalu tersenyum.
“Berapa?” balasnya. “Nggak kok Mbak, cuma bercanda. Bukan pekerjaan sulit atau menghunus tenaga” “Jangan To. Keahlian seseorang mempergiat harus dihargai. Apapun aliran penghargaannya” Aku teringat pernah rentang waktu tidak creambath.
Mumpung di sini sekalian creambath saja. Aku bukan gemar creambath bebas untuk bantuanku tadi, tapi tentu pernah saatnya aku creambath. “Aku mau creambath, bisa sekarang Mbak?” tanyaku. “Boleh. Duduk di kursi sana, nanti aku siapkan peralatannya” Aku beristirahat di sebentuk kursi putar di depan kenap rias.
Lumayan lengkap jua peralatannya. Mbak Antik datang dengan melanting seember air dan gayung. Maklum sahaja ia belum melekatkan shower untuk keramas. “Pindah di sini. Keramas dahulu biar bersih” Akupun menurut sahaja dan beristirahat setengah bergelimpang telentang di bak keramas salon.
Mbak Antik akan datang menuangkan shampoo dan mengusapkannya dengan lembut di kepalaku. Karena posisiku yang setengah telentang aku dapat menyaksikan bidang dan dadanya yang berada di arah kepalaku.
Dadanya akan datang dimajukan tetap di arah mukaku hanya berjarak sekeliling 20 cm. Aku berangkat menjadi pusing dengan kondisi ini.
“Yuk balik ke kursi tadi!” perintahnya. Kami balik ke depan kenap rias. Mbak Antik bangat mengurut kepalaku dengan cream. Sejam akan datang ia pernah menyelesaikan pekerjaannya. Kini rambutku dikeringkannya dengan hair dryer.
Sambil menggaru rambutku dadanya ditekankan ke tengkukku. Terasa lembut namun sedikit kendor. Penisku bangat bereaksi dengan perlahan- persil berangkat membesar.
“Dari mana tadi, pagi-pagi kok pernah rapi?” tanyanya.
“Jalan-jalan ke sawah di belakang kampung. Musim kemarau, jadinya kurang air dan agak-agak bisa beres hendak kekeringan,” jawabku. Dari kaca muka kenap rias kulihat mukanya agak ahmar mendengar kataku tadi. Selesai menggaru rambut ia malah membuka dobel kancing teratas kemejaku dan mengurut bahuku dengan sedikit body lotion.
Napasnya menyapu tengkukku, terdengar berat dan agak terengah-engah. Entah karena menghunus tenaga untuk memijatku atau memalangi nafsu. Aku enak-enak dengan pijatannya dan menganggap nyaman sekali, tidak terlalu awet atau terlalu lemah.
Pas susunya, karena dadanya berkelaluan ikut memijat belakang kepalaku. Melihat aku keamanan dipijat Mbak Antik menawariku untuk pijat badan.
“To, mau badanmu dipijat? Ayo ke dalam sahaja kalau mau kupijit, biar seger badanmu,” konon sekali lalu atraktif tanganku ke hadap kamarnya. Aku semakin pusing, bukannya badan bertambah segar beka malahan pegal yang hendak kudapat.
Aku ragu dan melirik ke hadap pintu, takut kalau sedia konsumen lain yang masuk ke salonnya. Tapi ia tidak peduli dan terus menarikku ke dalam kamarnya. Aku menyerah. Que sera sera, whatever will be will be. Sampai di dalam bilik ia menyuruhku melepas baju dan bergelimpang tengkurap.
Celana panjangku tetap kupakai dan tergantung apa yang terjadi nanti. Kalau harus dibuka mengapa tidak? Mbak Antik keluar bilik dan kudengar pintu depan ditutup bersama bahana landasan (kereta api) korden yang berderik. Aku meluruskan posisi adinda kecilku yang sedikit mengganjal agar nyaman dan tidak terlipat.
Berabe mempergiat kalau bergidik balasan bergulung dan ditindih badanku. Ia balik dengan melanting handuk kecil, body lotion, piring alit dan minyak gawang putih. Dicampurnya minyak gawang putih, body lotion dan sedikit cairan lain yang baunya sangat lembut, antara jasmine dan rose. Ia akan datang berangkat mengurut punggungku dengan larutan tadi.
Ada rasa hangat minyak gawang bersih dan raksi mawar melati (semuanya indah!). Setelah itu akan datang tanganku diurut berangkat dari anggota berbatas jari. “Berbalik To!” konon lembut. Aku berbalik dan bangat tangannya mengurut pundak bagian depan dan dadaku.
Kini urutannya bertambah tepat disebut elusan yang mempermainkan bulu dada, puting dan tentu sahaja gairahku yang menggelora. Bibirnya mesem alit bagai anak alit yang membaca mainan baru. Padahal mainannya masih tertutup celana.
“Hh..” Ia atraktif napas dalam dan mneghembuskannya kuat-kuat. Leher dan tangannya berpeluh sehabis memijatku. Disekanya dadaku dengan handuk basah yang pernah disiapkannya. Aku berbalik agar ia bisa mengeringkan punggungku.
Setelah mengeringkan punggungku ia bergelimpang di sampingku. Aku balik dalam posisi telentang. “Kini giliranku yang desak upah,” konon sekali lalu mesem lebar. “Apa upahnya?” pancingku. “Kamu semula berkata sawah di daerah saya aib air.
Aku gemar kamu mengairi sawahku yang jua pernah rentang waktu tidak disiram,” konon manja dan langsung memagut dan menciumku. Que sera sera, quo vadis, eureka, ereksi dan seterusnya aku tidak mengerti lagi. Kupegang kedua bahunya dari belakang dan kupijit perlahan. Ia menggelitik dan mengusapkan pipinya ala anggota kananku.
Kuputar badannya sehingga saat ini kami saling berhadapan. Kupegang kepalanya dan kutengadahkan mukanya ke mukaku. Ia menjatuhkan kepalanya ke dadaku. Kupegang bahunya dan kutempelkan pipiku ke pipinya. Ia berbisik, “Puaskan aku sekarang.
Airi sawahku berbatas belecak dan berlumpur..” Kupeluk beliau dan ia semakin merapatkan kepalanya di dadaku. Rambutnya yang keriting kediaman kusingkapkan ke atas. Kucium bulu halus di leher belakangnya. “Ssh.. kamu ahli membangkitkan gairah,” mengeluh Mbak Antik sekali lalu memejamkan matanya.
Lidahku membuka ke mulutnya dan menggelitik lidahnya. Mbak Antik membalas ciumanku dengan lembut. Tanganku berangkat berbicara di arah dadanya dan kuremas buah dadanya. Kurasakan payudaranya pernah agak kendor.
Jariku terus menjalar berangkat dari dada, perut, pinggang terus ke kaki (gunung) engat pahanya. Mbak Antik makin ada kalanya menggeliat. Lidahku beraksi di lubang telinganya dan gigiku menggigit patera telinganya. Tangannya meremas isi celanaku yang berangkat memberontak.
Kusapukan bibirku ke lehernya dan kutarik pelan- ayal ke kaki (gunung) sekali lalu mencium dan menjilati lehernya yang mulus. Mbak Antik mendongakkan atasan memberikan area alokasi bibirku. Tangannya memagut leherku dan ia semakin merepatkan tubuhnya ke dadaku, sehingga dadanya yang masih terbungkus busur menganiaya dadaku.
Diusap- usapnya dadaku dan akan datang putingku dimainkan dengan jarinya. Kucium bibirnya dan saat ini ia membalas dengan lumatan ganas. Kubuka kausnya dan kutarik lancingan kulotnya dan sekalian lancingan dalamnya ke bawah.
Kulit yang mulus, lembah yang indah dengan padang jukut yang memadai lebat terlihat di celah pahanya. “Eehhngng…” Ia mendesau ketika lehernya kujilati. Mbak Antik berguling dan menindih tubuhku. Tanganku beralih punggungnya.
“Tik…” pengait bra-nya terbuka. Kunaikkan cup bra-nya. Kini buah dadanya terbuka di hadapanku. Buah dadanya yang besar namun pernah sedikit kendor menggantung di atasku. Putingnya yang berwarna coklat kemerahan berangkat mengeras.
Digesek- gesekkannya putingnya di arah dadaku. Perlahan tanganku membarut bahunya dan sekalian menerjunkan tali bra-nya. Bibirnya saat ini semakin lincah menyusuri wajah, bibir dan leherku. Mbak Antik mendorong lidahnya jauh ke dalam rongga mulutku akan datang membawakan lidahku dengan menggelitik dan memilinnya.
Mbak Antik mengalihkan tubuhnya ke hadap bagian arah tubuhku sehingga payudaranya tepat berada di depan mukaku. Segera kulumat payudaranya dengan mulutku. Putingnya kuisap ayal dan kujilati.
“Aacchh, Ayo Anto.. Lagi.. Teruskan Anto.. Nikmat.. Teruskan” Kemaluanku semakin mengeras. Kusedot payudaranya sehingga semuanya masuk ke dalam mulutku kuhisap ayal namun dalam, putingnya kujilat dan kumainkan dengan lidahku.
Dadanya beralih kembang kempis dengan acap detak jantungnya jua meningkat. Napasnya berat dan terputus- putus. Tangannya menyusup di balik celanaku, akan datang mengelus, meremas dan mengocok kemaluanku dengan lembut. Ia melepas ikat pinggang dan atraktif resluiting celanaku.
Pantatku kunaikkan dan dengan amat tarikan, alkisah lancingan bujur dan lancingan dalamku sekalian pernah terlepas. Kini kami dalam keadaan kosong tanpa selembar benang. Bibirnya mengarah ke leherku, mengecup, menjilatinya akan datang menggigit pundakku.
Napasnya dihembuskannya ke dalam lubang telingaku. Kini beliau berangkat menjilati putingku dan tangannya membarut bulu dadaku berbatas ke pinggangku. Aku semakin terbuai. Kugigit bibir bawahku untuk memalangi rangsangan ini. Kupeluk pinggangnya erat- erat.
Tangan kiriku kuarahkan ke celah antara dobel pahanya. Jari tengahku masuk sekeliling satu ruas jari ke dalam lubang guanya. Kuusap dan kutekan bagian depan dinding vaginanya dan akan datang jariku pernah menemukan sebentuk tonjolan daging seperti kacang.
Setiapkali aku memberikan tekanan dan akan datang mengusapnya Mbak Antik mendesis “Huuhh.. Aauhh.. Engngnggnghhk” Ia melepaskan tanganku dari selangkangannya. Mulutnya beralih ke bawah, menjilati perutku.
Tangannya masih mempermainkan penisku, bibirnya terus menyusuri perut dan pinggangku, semakin ke bawah. Ia melihat nanti atasan penisku yang berseri dan akan datang mengecup batang penisku. Mbak Antik balik beralih ke atas, tangannya masih memegang dan membarut kejantananku yang menduga berdiri tegak.
Kembali kami berciuman. Buah dadanya kuremas dan putingnya kupilin dengan jariku sehingga beliau mendesis gontai dengan bahana yang tidak jelas. “Sshh.. Sshh.. Ngghh..” Perlahan persil akan datang ia menerjunkan pantatnya sekali lalu memutar-mutarkannya.
Kepala penisku dipegang dengan jemarinya, akan datang digesek-gesekkan di arang vaginanya. Terasa pernah licin berlendir. Dia mengarahkan kejantananku untuk masuk ke dalam vaginanya. Ketika pernah menyentuh lubang guanya, alkisah kunaikkan pantatku perlahan.
Mbak Antik menghindarkan kedua pahanya dan pantatnya diturunkan. Kepala penisku pernah berangkat menyusup di bibir vaginanya. Kugesek-gesekkan di bibir vaginanya. Mbak Antik merintih dan menganiaya pantatnya agar penisku bangat masuk.
“Ayolah Anto.. Naikkan pantatmu.. Dorong sekarang. Ayo.. Masukkan batangmu.. Pleasse..!!” Mbak Antik beralih bertambah anjlok dengan perlahan. Vaginanya terasa licin dan agak becek. Kadang gerakan pantatku kubuat bertambah anjlok dan memutar.
Mbak Antik terus melakukan gerakan berkelemban ala pinggulnya. Ketika kurasakan cairan pekat yang membasahi vaginanya semakin banyak alkisah kupercepat gerakanku. “Anto… Ouhh.. Nikmat.. Oouuhh.” desisnya sekali lalu menciumi leherku. Kakinya menjepit pahaku. Dalam posisi ini gerakan bertambah turunnya menjadi bebas.
Tangannya menganiaya dadaku. Kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Kepalanya terangkat dan tanganku atraktif rambutnya kebelakang sehingga kepalanya semakin terangkat. Setelah kujilat dan kukecup lehernya, alkisah kepalanya anjlok balik dan bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang panas.
Mbak Antik akan datang menggerakkan pantatnya maju mundur sekali lalu menganiaya ke kaki (gunung) sehingga penisku tertelan dan beralih ke hadap perutku. Rasanya seperti diurut dengan lembut namun bertenaga.
Semakin lama- semakin acap ia mengerakkan pantatnya. Desiran yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat. “Mbak Antik.. Mbak.. Ouuhh” “Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu bahwa ia hendak bangat mencapai puncak kenikmatannya.
Kini penisku kukeraskan dengan memalangi napas dan mengencangkan otot yang pernah berpengalaman oleh senam Kegel. Ia menghenyakkan (diri) tubuhnya ke arah tubuhku, matanya berkejap-kejap dan bola matanya memutih.
Giginya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Akupun menganggap tidak tahan lagi dan hendak bangat melontarkan laharku. Aku berguling dan saat ini aku berada di atas. Kupompa vaginanya dengan acap dan akhirnya beberapa saat kemudian.. “Anto.. Sekarang sayang.. Sekarang.. Hhuuaahh. Aku sampai..!” Ia berkoar kecil.
Kutekan pantatku sekuatnya. Dinding vaginanya berdenyut awet menghisap penisku. Ia menaikkan pinggulnya. Bibirnya menciumiku dengan pagutan-pagutan ganas. Desiran dan tekanan cucuran ladu yang sangat awet memancar lewat lubang kejantananku.
“Mbaakk.. Ouhh.. Aa.. Tikk..!” Kupeluk tubuhnya erat-erat dan kutekankan kepalaku di lehernya. Napas yang bergemuruh akan datang disusul napas putus-putus dan sehabis tarikan napas bujur aku terkulai lemas di arah tubuhnya.
Akhirnya bujang 35 tarikh itu ku setubuhi dengan dasar suka sama suka, walau terjadi bermula tanpa direncana, tapi pergumulan atau ikatan seks kami terus berlanjut, dan tapa kami sadari ikatan seks itu semakin nikmat, bahkan bertambah bahagia dari abg, bujang binal tentu sangat nikmat.
Cerita Sex 2016 | Cerita Dewasa | Cerita Mesum | Cerita Ngentot | Cerita Tante Sange | Cerita ABG Bispak | Cerita Memek Perawan | Cerita Sedarah | Cerita Telanjang | Tips Bercinta | Foto Hot Bugil
Sampai di sini detil perihal Foto Sex Jablay: Cerita Sex Siram Lubang Vaginaku, semoga tulisan ini dapat bermanfaat kalian semua salam
tulisan ini diposting pada label , tanggal 11-09-2019


Komentar
Posting Komentar